Minggu, 08 Mei 2016

PERAN PROFESIONALITAS KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kepala sekolah adalah seorang guru yang memiliki kemampuan untuk memimpin segala sumber daya yang ada di suatu sekolah, sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab yang besar untuk masa depan sebuah lembaga pendidikan. Kepala sekolah harus mampu menangani organisasi berdasarkan tujuan, dapat mengambil resiko untuk memajukan organisasi yang ia pimpin. Kepala sekolah juga harus memiliki pemikiran yang inovatif, kreatif dan dapat memotivasi bawahan agar mereka semangat untuk bekerja guna mencapai tujuan dari lembaga pendidikan.
Dalam hal ini professionalisme kepala sekolah terus dituntut untuk terus dikembangkan dan diaplikasikan dalam dunia pendidikan.Professionalisme kepala sekolah merupakan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah yang mana memerlukan keahlian, kemahiran, kecakapan, dan memerlukan pendidikan profesi untuk mencapai tujuan sebuah lembaga pendidikan . Oleh sebab, dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai pengembangan profesional bagi pemimpin pendidikan (Kepala Sekolah).

Sabtu, 30 April 2016

FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT BELAJAR SISWA di SEKOLAH DAN di RUMAH BAGI SISWA

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan terjadi secara terus-menerus. Proses belajar yang ideal tentunya menginginkan adanya kelancaranbaik dalam guru menyampaikan materi atau siswa yang menerima materi,tapi kenyataanya banyak kendala yang dialami siswa yangsering disebut permasalahan atau hambatan dalam belajar. Hambatan tersebut dapat berasal dari dalam diri anak maupun dari luar. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Yaitu faktor dari dalam individu dan dari luar. Faktor sekolah juga mempengaruhi belajar siswa. Faktorsekolah yang mempengaruhi belajar mencakup beberapa faktor yaitu,metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, dan keadaangedung. Selain faktor sekolah ada faktor keluarga dan faktor masyarakat yang mempengaruhi berhasil tidaknya siswa dalam belajar.
Setiap anak mempunyai masalah yang berbeda dengan anak lain. Dengan adanya hambatan tersebut akan mempersulit anak untuk mancapai hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam belajar pada anak.Sebagai guru sudah sepatutnya kita bisa menyadari dan bisa memecahkan permasalah. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang permasalahan-permasalahan yang bekaitan dengan proses belajar siswa serta bagaimana solusi penanganannya.

B. Tujuan Pembahasan
Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Mendeskripsikan faktor penghambat dalam belajar pada siswa di sekolah dan di rumah .
  1. Mendeskripsikan cara mengatasi hambatan belajar pada siswa di sekolah dan di rumah.
C. Ruang Lingkup Pembahasan
Ruang lingkup pembahasan ini meliputi:
1.    Peserta didik
2.    Hubungan guru dan peserta didik
3.    Hubungan peserta didik dengan peserta didik lain
4.    Hubungan peserta didik dengan orang tua
5.    Keadaan kelas




BAB II
KAJIAN TEORI


A.  Definisi Belajar
Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process dalam buku Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru karangan Muhibbin Syah (2010: 88), berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

Rabu, 20 April 2016

CONTOH DAFTAR RIWAYAT HIDUP YANG BAIK DAN BENAR

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI
Nama                                 : Melinda Fitria                                     
Jenis Kelamin                    : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir      : Jombang, 03 Agustustus 1993
Warga Negara                    : Indonesia
Status perkawinan             : Belum menikah
Agama                               : Islam
Hp                                      : 085745xxxxxx
Email                                 : xxxxx@gmail.com

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
A. FORMAL

Minggu, 10 April 2016

MAKALAH EFFECTIVE SCHOOL




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keunggulan suatu bangsa tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada keunggulan sumber daya manusia (SDM), yaitu tenaga terdidik yang mampu menjawab tantangan-tantangan yang sangat cepat. Secara keseluruhan, di Indonesia  mutu SDM Indonesia saat ini masih ketinggalan dan berada di belakang SDM negara-negara maju dan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand. Kenyataan ini sudah lebih dari cukup untuk mendorong pakar dan praktisi pendidikan melakukan kajian sistematik untuk membenahi atau memperbaiki sistem pendidikan nasional.
Agar keluaran dari sekolah mampu beradaptasi secara dinamis dengan perubahan dan tantangan tersebut, pemerintah melontarkan gagasan tentang manajemen pendidikan yang berbasis sekolah (school-based management) yang memberikan ruang yang luas bagi sekolah dan masyarakatnya untuk menentukan program dan rencana pengembangan diri sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Sejalan dengan gagasan desentralisasi pengelolaan pendidikan, maka fungsi-fungsi pengelolaan sekolah perlu diberdayakan secara maksimal agar dapat berjalan secara efektif untuk menghasilkan mutu lulusan yang diharapkan oleh masyarakat dan bangsa. Hal tersebut perlu didukung oleh seperangkat instrument yang akan mendorong sekolah berupaya meningkatkan efektivitas fungsi-fungsi pengelolaannya secara terus-menerus sehingga mampu berkembang menjadi learning organization. Melalui makalah ini kami mencoba menjelaskan untuk bisa mempelajari dan memahami tentang sekolah efektif yang merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan.

Rabu, 30 Maret 2016

INSTRUMEN EVALUASI TEKNIK TES

A. Pengertian Tes
Istilah tes berasal dari bahasa latin “testum” yang berarti sebuah piring atau jambangan dari tanah liat. Istilah tes ini kemudian dipergunakan dalam lapangan psikologi dan selanjutnya hanya dibatasi sampai metode psikologi, yaitu suatu cara untuk menyelidiki seseorang. Penyelidikan tersebut dilakukan mulai dari pemberian suatu tugas kepada seseorang atau untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. Sebagaimana dikemukakan Sax dalam Arifin (2012) bahwa “a test may be defined as a task or series of task used to obtain systematic observations presumed to be representative of educational or psychological traits or attributes”. (tes dapat didefinisikan sebagai tugas atau serangkaian tugas yang digunakan untuk memperoleh pengamatan-pengamatan sistematis, yang dianggap mewakili ciri atau aribut pendidikan atau psikologis). Istilah tugas dapat berbentuk soal atau perintah/suruhan lain yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil kuantitatif ataupun kualitatif dari pelaksanaan tugas itu digunakan untuk menarik simpulan-simpulan tertentu terhadap peserta didik.
Sementara itu, S. Hamid Hasan dalam Arifin (2012) menjelaskan “tes adalah alat pengumpulan data yang dirancang secara khusus. Kekhususan tes dapat terlihat dari konstruksi butir (soal) yang dipergunakan”. Rumusan ini lebih terfokus kepada tes sebagai alat pengumpul data. Memang pengumpulan data bukan hanya ada dalam prosedur penelitian, tetapi juga ada dalam prosedur evaluasi. Dengan kata lain, untuk mengumpulkan data evaluasi, guru memerlukan suatu alat, antara lain tes. Tes dapat berupa pertanyaan. Oleh sebab itu, jenis pertanyaan, rumusan pertanyaan, dan pola jawaban yang disediakan harus memenuhi suatu perangkat kriteria yang ketat. Demikian pula waktu yang disediakan untuk menjawab soal-soal serta administrasi penyelenggaraan tes diatur secara khusus pula. Persyaratan-persyaratan ini berbeda dengan alat pengumpul data lainnya.
Dengan demikian, tes pada hakikatnya adalah suatu alat yang berisi serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau soal-soal yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur suatu aspek perilaku tertentu. Artinya, fungsi tes adalah sebagai alat ukur. Dalam tes prestasi belajar, aspek perilaku yang hendak diukur adalah tingkat kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan.